Silahkan Memilih Produk-Produk Kami Dari Menu Di Atas

MEMPERBAIKI FOTO DENGAN PHOTOSHOP

0 komentar

MEMPERBAIKI FOTO DENGAN PHOTOSHOP
Ada kalanya karena berbagai hal, hasil foto kita tidak sempurna, baik dari sisi exposure ataupun kerataan pencahayaan, lebih jauh efek cahaya yang memang kita inginkan. Oleh karena itu kita harus memperbaiki foto dengan menggunakan software seperti photoshop

Idealnya semua hal itu bisa diantisipasi saat pemotretan dilakukan karena bagaimana hasil foto yang mendekati sempurna akan jauh lebih bagus daripada hasil foto yang kurang bagus meskipun bisa diperbaiki melalui software postprocessing. Jika menghadapi kondisi ‘terlanjur’ seperti itu, mau tidak mau kita harus memperbaiki foto atau klien tidak akan mau membayar jasa kita. Ada satu tool di Photoshop yang bisa memperbaiki kesalahan akibat exposure dan lighting pada umumnya, yaitu Curve dan fungsi lain yang bersifat umum yaitu masking.

Rasanya selama menggunakan photoshop, fungsi inilah yang paling sering dan paling berguna buat saya untuk menyempurnakan foto.Sebetulnya curve adalah sebuah fitur di photoshop dan masking juga sebuah fitur tersendiri, tetapi secara default penggunaannya dilakukan bersamaan ketika fitur curve digunakan. Secara garis besar curve bisa meng-adjust kondisi pencahayaan secara keseluruhan dan masking akan berguna untuk meng-adjust pencahayaan pada satu area pada sebuah foto atau bisa disebut adjust lokal.

Apa yang bisa dilakukan oleh curve?
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita meninjau kembali apa saja yang berada dalam kotak dialog curve dan apa fungsi setiap bagiannya.

Gambar 1

A. Adjust curve dengan menambahkan nilai point (default)
B. Adjust curve dengan menggambarnya menggunakan pensil
C. Highlights
D. Midtones
E. Shadows
F. Slider untuk menentukan nilai hitam dan putih
G. Option untuk tampilan curve dialog box
H. Set tonal dengan menentukan warna hitam
I. Set tonal dengan menentukan warna gray
J. Set tonal dengan menentukan warna putih
K. Memperlihatkan clipping
L.
Foto berikut bisa kita gunakan sebagai contoh kasus.

Gambar 2 Gambar 3

Ada beberapa kekurangan dalam foto tersebut, pertama dalam histogram bisa dilihat dalam foto tersebut tidak terdapat data dalam sisi highlight, artinya dalam foto tersebut tidak terdapat warna putih murni. Kedua, pada sisi background cahaya lebih banyak jatuh pada bagian bawah subject sedangkan pada bagian atas lebih sedikit terkena cahaya, pada fikiran saya seharusnya kebalikannya atau menerangi background sekitar kepala saja. Ketiga, tonal pada subject agak kemerahan, bisa jadi kesalahan pada setting white balance yang tidak pas karena pengaruh lampu yang tidak stabil.

Memperbaiki Foto dengan curve dan masking photoshop

Sekarang mari kita perbaiki ketiga kekurangan tersebut agar foto ini menjadi lebih baik.
Buka foto tersebut pada photoshop, kemudian klik tab kotak dialog layer kemudian klik fungsi create new fill or adjustment layer, kemudian klik curve untuk menampilkan kotak dialog curve (lihat gambar 4).

Kemudian klik slider putih (F pada gambar 1) ke kekiri sampai batas histogram yang terisi data. Dengan demikian photoshop membuang data kosong tersebut dengan cara mengangkat nilai highlight tertinggi menjadi warna putih murni atau 255.255.255 pada nilai histogram (lihat gambar 5). Karena nilai highlight terangkat maka secara otomatis foto akan menjadi lebih terang. Setelah selasei maka klik OK dan beri nama curve ini set highlight.


Gambar 4


Gambar 5

Langkah selanjutnya adalah meng-adjust midtone secara keseluruhan untuk mendapatkan kondisi cahaya midtones yang lebih merata dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Lakukan kembali langkah dalam gambar 4.

Gambar 6

Pastikan A pada gambar 1 pada posisi aktif. Lalu ctrl+klik pada titik A untuk menentukan titik kunci highlight, titik B untuk titik kunci shadow dan titk C untuk sekitar midtone. Tidak harus demikian bahkan tanpa menentukan titik-titik kunci itupun, adjustment tetap bisa dilakukan. Tujuan titik-titik itu supaya yang terangkat nantinya hanyalah sekitar midtones saja. Setelah titik-titik itu terbentuk, tarik garis diantara titik B dan C ke atas hingga cahaya pada foto di rasa pas. Setelah itu klik OK dan beri nama layer curve yg ini set midtone.

Langkah selanjutnya adalah menyempurnakan tonal foto terutama skintone yang agak kemerahan. Cara yang sama, lakukan langkah pada gambar 4. Langkah selanjutnya adalah klik J pada gambar 1 untuk menentukan titik putih pada gambar. Artinya area yang mendekati putih yang diklik oleh tool ini akan berubah jadi putih murni dan semua tonal range dalam foto ini akan menyesuaikan dengan perubahan itu. Pada gambar 7, titik A adalah titik dimana terjadi pantulan lampu paling terang dan kalau dilihat dihistogram paling mendekati nilai putih murni. Maka set warna putih ke titik itu dan secara otomatis curve akan berubah. Kita bisa menyesuaikan secara manual dengan cara mengatur setiap warna pada curve tersebut namun tentunya akan memakan waktu cukup panjang. Penentuan titik putih merupakan cara cepatnya. Hal yang sama juga berlalu pada penentuan titik hitam dan gray.


Gambar 7

Selanjutnya adalah mengatur agar cahaya pada background rata atau berkumpul di area kepala agar focus yang melihat bisa langsung tertuju ke sana. Untuk itu, sekarang saatnya menggunakan fitur masking.

Masking sederhananya ya topeng, artinya jika topeng tersebut dibuka maka wajah asli pemakainya akan terlihat, jika topeng itu dirobek sebagian, maka wajah asli pemakainya pada bagian yang robek itu akan terlihat. Prinsip ini bisa dimanfaatkan untuk meramu bagian topeng (hasil perbaikan) dengan bagian wajah yang asli, sehingga ada bagian yang dibuang dan ada bagian yang dipertahankan.

Pada kasus foto ini, bagian atas background pada foto hasil perbaikan akan tetap digunakan, tetapi pada bagian bawah akan menggunakan bagian pada foto aslinya karena foto ini akan menggelapkan bagian bawah yang sudah tersedia pada file awalnya. Caranya sangat mudah, klik brush tool, pilih brush yang lembut, kemudian pastikan selector warna berwarna hitam pada bagian foreground (lihat gambar 8A dan 8B). Sekedar informasi, jika selector warna berwarna putih maka efeknya akan sebaliknya, hal ini berguna jika ingin mengembalikan area yang terlanjur dilakukan masking.

Mulailah melakukan brush pada area yang diinginkan mulai dari layer paling atas, lakukan hal serupa pada layer dibawahnya jika hasil yang diinginkan belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Lihat gambar 8B untuk hasil akhirnya.


Gambar 8A

Gambar 8B
Sampai di sini langkah edit foto menggunakan curve selesai sudah, langkah tersebut bisa saja dilakukan pada satu langkah curve atau lebih banyak curve, tergantung kebutuhan dan kebiasaan. Juga banyak sekali hal yang bisa diexplore dari sini. Langkah-langkah dalam tutorial singkat ini hanyalah disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan juga. Berikut hasil sebelum dan sesudah edit menggunakan curve.


READ MORE - MEMPERBAIKI FOTO DENGAN PHOTOSHOP

FOTOGRAFI DASAR

0 komentar

MENGENAL KARAKTER CAHAYA UNTUK PORTRAITURE 1 (OUTDOOR)
Kita semua paham bahwa cahaya adalah sahabat yang harus betul-betul dimengerti oleh setiap fotografer, tidak meng-enakan memang jika bersahabat hanya harus mengerti tanpa bisa dimengerti he he he, tapi jangan salah, sekali kita mengerti sahabat kita yang satu ini, dia akan memberikan hasil yang mampu membuat kita terkagum-kagum, betapa indahnya foto yang telah kita buat.
Berbicara tentang cahaya (outdoor) tidak akan terlepas dari tiga hal, yaitu: warna cahaya, intensitas cahaya dan arah cahaya. Tetapi sebelum kita melangkah lebih jauh, saya mau membatasi tulisan ini kepada pengaruh ketiga hal itu untuk pemotretan orang (portraiture) tanpa menggunakan bantuan alat tambahan, seperti reflector, screen atau lampu. Tulisan ini juga tidak ditujukan untuk pemotretan landscape, human interest ataupun genre fotografi lainnya, meskipun prinsip-prinsip yang dipakai mempunyai kesamaan. Pembatasan ini saya fikir penting agar kita bisa fokus pada pemahaman, pengaruh apa yang dihasilkan olehnya dan bagaimana memanfaatkannya. Memanfaatkanya berarti bagaimana kita memposisikan orang sebagi subject utama foto kita pada posisi yang tepat relatif kepada matahari sebagai sumber cahaya utama, sehingga apa yang kita inginkan atau imajinasikan dari pemotretan ini bisa didapat secara memuaskan.
Warna cahaya adalah spetrum warna yang melekat bersama gelombang cahaya sehingga memantulkan warna tertentu pada subject yang terkena cahaya tersebut, pada pagi dan sore hari pantulan cahaya matahari pada subject akan meninggalkan warna kemerahan ketika tertangkap oleh kamera sedangkan pada siang hari, cahaya matahari yang terpantul pada subject akan meninggalkan warna abu-abu. Kondisi ini bisa digambarkan pada skema warna cahaya (gambar 1) di bawah ini:
Skema 1. Warna cahaya pada rentang satu hari.
Dari skema tersebut jelas terlihat perubahan warna cahaya dalam rentang satu hari, warna Fajar berwarna merah didapatkan ketika matahari berada di batas horizon, antara jam 5 sampai jam 6, warna pagi cenderung orange berkisar antara jam 6 sampai jam 8, warna menjelang siang agak kekuningan berkisar antara jam 8 sampai jam 10 dan warna siang cenderung abu-abu antara jam 10 sampai jam 14. Lalu warna kembali berubah seperti semua dalam rentang waktu yang kira-kira sama ke arah malam hari lagi. beberapa contoh foto berikut mungkin bisa memperkuat perbedaan warna cahaya yang terjadi pada rentang waktu tersebut. namun karena keterbatasan foto yang saya miliki, tidak semua bagian dalam rentang waktu tersebut yang bisa diberikan conohnya.
Gambar 1, foto diambil pada pagi hari, sekitar jam 7 pagi, bisa kita lihat dari bayangan yang tercipta bahwa cahaya matahari langsung mengenai subject dan meninggalkan warna agak oranye. gambar 2 di ambil pada siang hari, warna yang tercipta terlihat agak abu-abu dan sedikit pucat sedangkan gambar 3 diambil pada sore hari sekitar jam 5 sore hari, cahaya matahari tidak langsung mengenai subjek tetapi warna yang ditinggal tetap agak kemerahan. Dalam fotografi, warna yang agak kemerahan dikenal dengan warna hangat (Warm) sedangkan warna yang agak kebiruan dikenal dengan warna dingin (Cool). Warna yang tertinggal tersebut sejatinya bisa dinetralisir dengan penggunan filter atau White Balance, tetapi ada sebagian fotografer yang lebih senang terlihat apa adanya karena cast warna tersebut memberikan mood tersendiri bagi fotonya.










Intensitas cahaya berhubungan dengan keras atau lembutnya cahaya, semakin tinggi matahari bersinar maka akan semakin keras cahayanya dan kondisi ini akan membuat perbandingan antara cahaya langsung yang memantul pada subject yang menghasilkan bidang terang (Hightlight) dengan bayangan yang dihasilkan (Shadow) akan semakin tinggi rasionya. Atau dengan kata lain semakin keras bayangan yang dihasilkannya. Sebaliknya semakin rendah matahari bersinar maka akan semakin lembut cahayanya dan dengan sendirinya rasio highlight dengan shadow akan semakin kecil. Semakin tinggi rasio antara shadow dan hightlight maka akan semakin riskan foto kita, karena salah satu di antaranya, entah itu highlight atau shadow harus kehilangan detailnya dan ini sangat tergantung dengan dynamic range kamera yang kita gunakan.
Saat matahari rendah kita bisa langsung memotret orang dengan langsung terkena sinar matahari tetapi pada saat matahari tinggi kita tidak akan bisa menghasilkan foto yang bagus tanpa menggunakan peralatan tambahan, atau dengan menempatkan subject berada dibalik sesuatu seperti pohon atau atap juga sehingga cahaya matahri tidak langsung mengenai subject atau bisa dengan menunggu datangnya awan. Awan bisa berfungsi sebagai softbox besar yang membuat cahaya menjadi sangat lembut yang merata namun foto akan terasa datar/flat.
Arah cahaya berhubungan dengan datangnya sumber cahaya mengenai subjek foto, berhubungan dengan penempatan subject pada datangnya sina matahari. Arah cahaya sangat berhubngan dengan intensitas cahaya karena pada cahaya yang terlalu keras kita tidak bisa menempatkan subject secara langsung terhadap sinar matahari karena kontrasnya terlalu tinggi, artinya harus ada bagian entah itu shadow atau highlight yang dikorbankan. beberapa gambar berikut mungkin bisa menjelaskan lebih jauh tentang pembahasan ini.
Pada Gambar 4, kita lihat efek yang dihasilkan oleh intensitas cahaya yang keras dari sinar matahari yang sudah cukup tinggi, cahaya tersebut membentuk bayangan hitam yang menghalangi sebagian wajah dan terutama mata, disamping expresi silau yg diperlihatkan oleh orang tersebut. Pada Gambar 4A, kondisinya kurang lebih sama, hanya pada foto ini untuk mengurangi shadow pada muka maka exposure harus dinaikan, akibatnya foto secara keseluruhan menjadi Over Exposure Dapat kita lihat, pada kondisi seperti itu, foto yang dihasilkan sungguh tidak nyaman untuk dinikmati. Sekarang kita lihat pada foto 5, foto tersebut diambil pada lokasi yang sama dengan foto 4 dan pada waktu yang berdekatan, tetapi saat foto ini diambil, ada awan menutupi matahari sehingga cahaya menjadi merata dan lembut. Perhatikan, tidak ada lagi shadow yang keras seperti pada gambar 4, seluruh bagian subject dikenai cahaya yang sama sehingga hampir tidak ada shadow yang tercipta. Pada gambar 7, masih pada lokasi yang sama dan waktu yang juga hampir bersamaan, tetapi subject dipindahkan ke bawah dinding sehingga cahaya matahari tidak langsung mengenainya, bayangan keras tidak lagi terlihat. Gambar 8, memperlihatkan ketika matahari sore, meskipun subject terkena langsung oleh cahaya matahari namun bayangannya tidak terlalu keras sehingga bisa ditolerir dan masih masuk ke dalam range rasio shadow/highlight.
Memanfaatkan sumber cahaya matahari sebagai main light untuk portrait.
Setelah mengetahui karakter cahaya tersebut, maka langkah selanjutnya adalah memanfaatkannya untuk membentuk light pattern (efek pencahayaan) untuk pemotretan orang (portraiture), Light pattern hanya akan tercipta jika ada cahaya utama yang mengarah langsung ke subject. Cahaya yang rata akibat kondisi berawan seperti gambar 6, tidak akan menghasilkan light pattern. kalau dipersingkat maka formulanya akan seperti ini: Light pattern bisa tercipta jika rasio Highlight/Shadow 1:2 atau lebih. kondisi flat berarti rasionya 1:1. Seperti yang kita ketahui, dalam pemotretan orang ada beberapa jenis efek pencahayaan, yang dibagi berdasarkan arah jatuhnya cahaya yang membentuk bayangan pada wajah, yaitu:
  1. Loop lighting
  2. Rembrant lighting
  3. Split lighting
  4. Butterfly/Glamour Lighting
  5. back lighting
Kelima efek itu bisa saya gambarkan ke dalam diagram berikut ini;
Loop lighting, cirinya adalah terjadinya bayangan hidung yang jatuh di atas bibir dan tidak menyatu dengan bayangan pipi, jenis pencahayaan ini dapat digunakan pada wanita maupun pria. Catatan: Untuk anak-anak pria dan wanita tidak menjadi soal.
Efek pencahayaan ini bisa di dapat dengan memposisikan diri kira-kira 45-50 derajat dari arah datangnya matahari dan posisi matahari kira-kira sudah lewat kepala (lihat skema).
Pada gambar 9/9A, bayangan terbentuk halus akibat cahaya yang mengenainya tidak terlalu keras, tapi masih bisa kita lihat bayangan hidung jatuh di atas bibir dan tidak menyatu dengan bayangan pipi. Pada gambar 10, kondisi bayangan terlihat lebih tegas karena cahaya yang mengenainya lebih keras dari gambar sebelumnya.
Rembrant lighting, cirinya adalah bayangan membentuk segitiga di bawah satu mata, jenis pencahayaan ini lebih sering digunakan pada pria karena bisa memberikan kesan maskulin dan sedikit misterius. Efek pencahayaan ini bisa di dapat dengan memposisikan diri kira-kira 60-70 derajat dari arah datangnya matahari dan posisi matahari kira-kira sudah lewat kepala. Gambar 12/12A bayangan yang terbentuk sangat halus akibat cahaya yang tidak terlalu keras, sedangkankan gambar 11 bayangan yang terbentuk cukup tegas sehingga bisa dilihat dengan jelas (segitiganya).
Split lighting, cirinya adalah sebagian wajah berada dalam bayangan yang membelah wajah tepat di tengah, jenis pencahayaan ini biasanya digunakan pada pria atau untuk mendapatkan efek dramatis. Efek pencahayaan ini bisa di dapat dengan memposisikan diri kira-kira 90 derajat dari arah datangnya matahari dan posisi matahari kira-kira sudah lewat kepala.













Butterfly lighting atau sering juga di sebut glamour atau kadang dikenal dengan Hollywood light pattern, pencahayaan ini membentuk bayangan sebeperti kupu-kupu di bawah hidung, biasanya digunakan untuk wanita dengan makeup yang sudah sempurna, artinya contour muka didapat dari penggunaan makeup dan bukan dari lighting. Untuk mendapatkan efek ini, posisikan subject berhadapan dengan matahari saat matahari berada di atas kepala. Gambar 15/15A memperlihatkan bayangan di bawah hidung yang membentuk kupu-kupu. Contour wajah yang terlihat dalam foto ini adalah hasil dari makeup yang dilakukan dan bukan dari efek cahaya.












Back Lighting, memberikan pencahayaan dari belakang hingga batas bagian belakang menjadi berkilau, back lighting biasanya digunakan untuk memisahkan subjek dengan Back Ground. Semakin rendah intensitas cahayanya maka akan semakin seimbang exposure yang terjadi antara BH dengan subjectnya. Gambar 16 memperlihatkan intensitas cahaya yang lebih tinggi daripada gambar 17.











Terlepas dari semua bahasan di atas, yang lebih utama alah kreatifitas fotografernya sendiri dalam memanfaatkan cahaya sebagai modal utama foto. Tulisan ini hanya berfungsi sebagai panduan, bahkan pengenalan bagi rekan-rekan yang baru terjun di dunia fotografi agar saat melakukan pemotretan lebih mempunyai landasan dan tidak sekedar jeprat-jepret saja. Semoga bermanfaat.


MENGENAL KOMPOSISI

Menurut kamus bahasa, komposisi (composition) berarti sebuah proses penggabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam fotografi komposisi merupakan sebuah proses yang sangat vital karena dari komposisi itulah sebuah foto bisa becerita, dari komposisi pula sebuah foto terlihat indah dan enak dipandang untuk dinikmati. Berbeda dengan seni lukis yang memulai komposisi dari bidang kosong, kemudian menambahkan elemen-elemen yang dirasa perlu agar pesan lukisannya bisa sampai ketika dilihat orang lain. Komposisi dalam fotografi dimulai dari bidang yang penuh, kemudian satu-persatu elemen yang tidak perlu disingkirkan untuk mencapai tujuan yang sama.
Komposisi sangat berkaitan dengan estetika, untuk itu tidak ada peraturan yang mengikatnya, kalaupun ada hanyalah sebatas panduan yang boleh diikuti dan boleh juga tidak dikuti. Untuk itu ada istilah following the rule dan breaking the rule. Tetapi bagaimanapun panduan-panduan dalam menentukan komposisi ini sudah melalui proses studi yang cukup panjang sehingga sangat sesuai dengan indera penglihatan manusia dalam menikmati karya visual ini. Untuk itu tidak ada salahnya panduan ini dipelajari dan dikuasai betul, setelah itu baru putuskan apakah akan mengikutinya atau tidak karena esensi dunia seni sangat tidak terbatas. Sebagai bahan masukan juga, setiap lomba foto formal selalu mendasarkan salah satu penilaiannya pada panduan komposisi ini.
Buatlah simple (Simplicity)
Pada forum-forum kritik foto, sering kita dengar komentar-komentar seperti ini: “simple tapi menarik…”, atau “backgroundnya terlalu ramai sehingga POI kurang menonjol…” dan lain-lain. Tujuan komposisi ini adalah memberikan penonjolan pada object utama foto (point of interest – POI)agar langsung terlihat secara utuh tanpa gangguan elemen-elemen lain yang tidak diperlukan. Karena itu saat melihat sebuah object yang hendak difoto, pastikan benar bahwa elemen-elemen yang masuk kedalam frame kamera adalah elemen-elemen yang benar-bener diperlukan. Cobalah zoom lebih dekat atau cari sudut pandang lain jikalau hal itu terjadi. Perhatikan contoh berikut :
Gambar 1
Gambar 2
Perhatikan gambar 1, object utama tidak terlalu menonol karena penglihatan akan terbagi ke beberapa aspek lainnya yang sama menonjol atau kurang menonjol tapi punya implikasi untuk mengalihkan perhatian. Struktur kayau dermaga yang kompleks bisa menyaingi object utama karena porsi dan intensitas cahayanya seimbang dengannya. Orang-orang yang terlihat di background juga punya andil yang cukup besar untuk mengalihkan perhatian karena orang akan merasa penasaran dengan aktivitas yang sedang dilakukannya.
Perhatikan gambar 2. Seluruh tumpuan penglihatan hanya tertuju kepada object utama karena tidak ada bagian lain yang akan menarik perhatian yang melihatnya. Semua elemen yang berpotensi mengganggu sudah dihilangkan. Contoh ini menunjukan bahwa zooming atau memfokuskan ke frame hanya ke object utama akan menghasilkan gambar yang simple tapi tepat sasaran.
Gambar 3
Gambar 4
Pada gambar 3, object utama duduk di dermaga dengan background kapal-kapal yang sedang bersandar. Background dibutuhkan untuk memberikan cerita dan suasana di dermaga. Masalahnya adalah background terlalu ramai sehingga perhatian akan terpecahkan dan object utamanya sendiri menjadi agak kurang menonjol. Gambar 4, memperbaiki kondisi tersebut tanpa menghilangkan suasana dermaganya, porsi kapal hanya diberi sedikit sehingga object utama menjadi lebih menonjol. Contoh ini memperlihatkan bahwa hanya dengan menggeser sudut pengambilan gambar, simplicity bisa didapatkan.
Hindari penumpukan object (merger)
Penumpukan object akan sangat mengganggu object utama (POI) karena bisa merusak keindahannya dan mengurangi rasa nikmat dalam melihatnya. Perhatikan contoh berikut :
Gambar 5
Gambar 6
Perhatikan gambar 5, posisi kamera tepat sejajar dengan kepala object utama bahkan terkesan menyatu dengan bagian rambut karena tidak ada pemisah. Kondisi ini adalah salah satu yang bisa dikategorikan sebagai penumpukan. Model yang harusnya terlihat cantik akan terganggu oleh keberadaan elemen kamera yang tidak pada tempatnya. Gambar 6, diambil dari sudut tembak yang lain dan memperbaiki kondisi yang ada. Bisa dilihat gambar 6 terlihat lebih menarik dibandingkan dengan gambar 5.
Rule of Third
Panduan komposisi rule of third mungkin yang paling populer dan paling sering diterapkan. Pada prinsipnya panduan ini adalah menempatkan object utama tidak pada tengah frame tetapi pada salah satu dari 1/3 bagian sisi pojok foto, lihat grafik berikut.
Gambar 7. Skema Rules of Third
Menempatkan object utama di tengah frame akan menghasilkan foto yang kurang dinamis dan terkesan snapshot. Menempatkan object utama pada prinsip rule of third akan memberikan efek yang lebih dinamis. Dan berdasarkan penelitian, mata kita memang lebih terasa nyaman pada posisi tersebut.
Gambar 8
Gambar 9
Gambar 10
Gambar 11
Perhatikan gambar 8, pada gambar ini object utama tepat berada di tengah frame, foto seperti ini biasanya dihasilkan dari para pemula yang melakukan snap shot. Begitu melihat object, langsung ditempatkan pada tengah frame mengikuti titik focus tengah lalu jepret tanpa berfikir untuk melakukan rekomposisi atau menggunakan bagian titik focus sisi yang lain (pada kamera-kamera terbaru). Hasilnya dikenal dengan sebutan dead center. Foto seperti ini terlihat tidak dinamis.
Gambar 9, 10 dan 11 memperlihatkan contoh komposisi yang sesuai dengan rule of third. Penempatan object utama dan object lain diposisikan pada setiap titik persilangan garis. Pada gambar 9, si anak diposisikan pada titik kanan bawah dan sepeda diposisikan pada kiri bawah. Foto ini menjadi lebih dinamis dan enak untuk dilihat karena posisinya tersebut. Gambar 10, mempelihatkan nelayan di atas rakit yang diposisikan pada titik kiri atas dan gambar 11, memperlihatkan bayi yang menangis yang menjadi object utama foto ini dan diposisikan pada titik kiri atas.
Mengikuti rule of third sangatlah mudah, cukup membayangkan empat titik tersebut saat membidik lalu putuskan pada titik mana object utama akan ditempatkan.
Golden Mean
Golden mean juga dikenal dengan golden section adalah sebuah panduan komposisi yang didasarkan pada perhitungan matematika yang unik.
Gambar 12. Formula Golden Section
Panduan komposisi ini pertama kali didokumentasikan oleh seniman yunani kuno dan sampai saat ini masih digunakan meskipun popularitasnya agak tertutupi oleh panduan komposisi rule of third. Prinsipnya panduan kompoisi ini hamper sama dengan rule of third namun titik interesnya lebih sempit sekitar 5% kearah tengah. Perhatikan gambar berikut:
Gambar 13. Rule of third vs Golden Mean
Pada teorinya golden mean ini bisa digunakan pada semua scene foto, tapi pada prakteknya lebih mudah diaplikasikan pada foto portrait formal/klasik. Pada scene lain lebih mudah menggunakan komposisi rule of third.
Gambar 14. Golden Mean vs Rule of third
Gambar 15. Golden Mean
Perhatikan gambar 14, garis kuning yang berada disebelah luar adalah panduan komposisi rule of third dan garis putih yang berada dibagian dalam adalah panduan komposisi golden mean. Golden mean sangat cocok untuk portrait wajah karena point of interestnya ada pada bagian mata dan sangat sesuai dengan besaran rasionya. Perhatikan juga gambar 15 untuk contoh lainnya.
Balance
Dalam fotografi balance berarti mengisi frame dengan porsi yang kurang lebih seimbang, bisa oleh elemen object, warna ataupun contrast. Sebuah foto dengan komposisi yang balance akan terasa saat kali pertama dilihat begitu juga sebaliknya.
Perhatikan contoh berikut;
Gambar 16
Pada gambar 16, satu bagian terisi oleh elemen object yaitu seorang wanita cantik, meskipun pandangan menyapu kearah kiri sehingga kesan dinamis terlihat, foto ini tetap timpang, tidak balance. Bagian kosong dalam frame ini telalu lebar sehingga terasa ada sesuatu yang kurang ketika melihatnya.
Gambar 17
Pada gambar 16, kekosongan ruang yang mengakibatkan foto terasa tidak seimbang diperbaiki dengan hanya menambah satu elemen kecil saja yaitu sebuah lilin yang menyala. Jadi balance tidak perlu elemen yang sama besar, yang terpenting adalah jangan sampai membiarkan ada kekosongan yang terlalu besar dalam frame foto tersebut.
Gambar 18
Pose juga bisa menjadikan sebuah komposisi menjadi balance atau tidak balance. Gambar 18 adalah contoh pose yang memberikan kesan balance pada foto. Shape/bentuk pose yang membentuk segitigalah (triangle shape) yang menjadikan kesan balance tersebut. Banyak contoh-contoh lain dan Kasus yang lain yang bisa dijadikan contoh, namun karena keterbatasan resource tampaknya contoh diatas bisa dijadikan panduan tentang bagaimana sebuah komposisi yang balance. Sekali lagi yang terpenting adalah jangan sampai ada kekosongan yang terlalu luas dalam sebuah frame.
Framing
Dalam komposisi, framing adalah memberikan elemen-elemen tertentu diantara object utama sehinga membuat kesan object utama tersebut berada dalam sebuah bingkai/frame. Frame tersebut bisa berbentuk apa saja, bisa dedaunan, bisa bidang gelap, bisa jendela ruma, kaca pecah dan lain-lain yang tidak terbatas jumlahnya. Diperlukan pemikiran kreatif memang untuk mendapatkan komposisi framing yang menawan. Perhatikan contoh berikut:
Gambar 19
Gambar 20
Gambar 21
Gambar 19, 20 dan 21 adalah contoh komposisi dengan menggunakan framing. Sekali lagi contohnya sangat luas, yang saya coba tampilkan di sini adalah contoh-contoh yang saya miliki saja. Pada gambar 20, meskipun daunnya tidak begitu banyak, tetap saja kesan yang diberikan seakan object utamanya berada dalan frame daun tersebut. Gambar 21, object utama berada dalam bingkai yang berupa cermin. Banyak hal bisa menarik kalau kita cermat menjadi sesuatu sebagai frame dan kabar baiknya adalah modal yang dibutuhkan hanyalah kreatifitas.
Line & Curve
Komposisi ini berdasarkan pada garis dan curve yang membentuk arah penglihatan menuju object utama. Secara tidak sadar mata kita selalu mengikuti arah garis jika melihat sebuah foto yang memang ada garisnya, untuk itu sebagai fotografer kita dituntut untuk bisa memanfaatkan garis ini semaksimal mungkin untuk menggiring mata yang melihat foto yang kita ciptakan ke object utama. Garis bisa berupa apa saja, bisa jalan, sungai, pagar, tali atau bahkan bayangan. Garis adalah hal yang setiap hari bisa kita temui di mana saja, ia bisa menggabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan atau bisa memisahkannya menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri.
Komposisi line & curve bisa berupa komposisi diagonal, vertical, horizontal dan kurva atau garis lengkung yang masing-masing bisa membentuk mood tersendiri. Vertical biasa digunakan untuk kesan kuat yang diterapkan pada cityscape. Horizontal bisa memberikan mood kedamaian, biasanya diterapkan pada landscape, diagonal memberikan mood pergerakan dan kurva memberikan mood elegan seperti yang sering diterapkan pada portrait wanita dengan menggunakan S-curve. Perhatikan contoh-contoh berikut:
Gambar 22
Gambar 23.

WHITE BALANCE

Apakah white balance itu?
Pada prinsipnya, white balance adalah sebuah fitur yang menyuruh kamera untuk menentukan dahulu warna putih seperti yang terlihat oleh mata kita. Hanya itu? Ya hanya sesederhana itu. Pada prosesnya, setelah warna putih ditentukan maka kamera akan menyesuaikan semua object yang berada dalam frame yang kita bidik ke warna putih tadi sehingga hasil yang dikeluarkan bisa akurat seperti halnya mata kita memandang object tersebut.
Dalam fotografi digital, white balance sangat memegang peranan penting bagaimana hasil akhir sebuah foto akan terlihat. Dalam fotografi analog peranan white balance ini dilakukan oleh filter-filter berwarna yang penggunaan warnanya disesuaikan dengan kondisi sumber cahaya yang ada. Lantas mengapa white balance dan filter tersebut sampai dibutuhkan? Apa yang menyebabkannya? Marilah kita bahas tentang masalah ini.
Cahaya dan sumber cahaya
Mata manusia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan penglihatannya pada setiap kondisi yang berbeda sehingga pada kondisi bagaimana ekstremnya pun manusia tetap bisa mengenali mana object yang berwarna putih, mana object yang berwarna merah, hijau, biru dan selanjutnya. Pada siang hari kita bisa melihat kertas putih sebagai warna putih, daun hijau sebagai daun hijau, pada malam hari pada penerangan lilin, kita masih bisa melihat hal yang sama, juga pada kondisi lampu disko yang beragam warna, kemampuan mata kita masih tetap bisa menentukan hal tersebut. Kemampuan ini sayangnya tidak bisa diterapkan pada tools buatan manusia yang kita kenal sebagai kamera. Kamera tidak bisa menentukan warna selain dari spectrum warna cahaya yang ditangkap oleh sensor. Masalahnya adalah ketika sebuah object terkena cahaya dari satu sumber cahaya, warna cahaya dari sumber cahaya tersebut akan melapisi objek tersebut. Artinya jika kertas putih terkena cahaya lilin, maka warna kertas putih tersebut akan berwarna kekuningan/orange. Spektrum cahaya dengan warna inlah yang kemudian akan ditangkap oleh sensor kamera. Maka putih tidak lagi menjadi putih pada hasil foto, tetapi kekuningan/orange.
Warna cahaya dari sumber cahaya ditentukan oleh derajat panas yang ditimbulkannya. Satuan yang digunakan untuk derajat panas ini ditentukan oleh kelvin (K). Semakin panas derajatnya maka warnanya semakin dingin (cool). Merah adalah derajat panas paling rendah dan biru adalah derajat panas paling tinggi. Perhatikan gambar berikut:
Dari gambar tersebut jelas terlihat bahwa semakin rendah derajat kervin suatu sumber cahaya maka semakin hangat (warm) warna cahayanya, itulah sebabnya foto dengan sumber cahaya lilin berwarna kemerahan begitu juga halnya dengan foto pada saat pagi menyingsing. Sebaliknya foto tengah hari, hamper tidak ada mood warnanya dan foto dalam ruangan dengan lampu fluorescent cenderung kebiruan.
Fungsi dari seting white balance di dalam kamera sebenarnya adalah menetralkan warna cahaya tersebut agar tidak terlalu kemerahan atau kebiruan dengan patokan bahwa warna putih yang terlihat oleh mata harus terlihat putih di dalam foto agar hasil foto tersebut natural atau apa adanya untuk dilihat. Dengan kondisi tersebut maka derajat panas pada seting white balance adalah kebalikan dari derajat panas sumber cahaya sebenarnya. Artinya derajat Kelvin paling tinggi pada setting white balance adalah berwarna merah dan sebaliknya derajat terendahnya berwarna biru. Perhatikan gambar berikut:
Gambar 2. Spektrum warna
Gambar 2. memperlihatkan ketika sumber cahaya membawa warna cahayanya pada suatu objek maka spectrum warna yang akan ditangkap oleh sensor kamera adalah seperti itu. Hal ini menyebabkan warna object yang kita lihat akan berubah warna sesuai dengan sumber cahayanya.
Gambar 3. Kompensasi spektrum warna
Untuk mendapatkan warna yang sesuai dengan penglihatan tanpa terpengaruh oleh perubahan warna yang ditangkap tersebut maka kamera perlu melakukan kompensasi atas warna tersebut. Gambar 3. mempelihatkan proses tersebut yang dikenal sebagai white balance.
Apakah Auto WB tidak cukup?
Sama halnya dengan auto exposure, apa yang dilakukan oleh auto WB juga sama. Kamera akan menilai object mayoritas yang berada dalam frame kemudian melakukan kalkulasi dan analisa. Data analisa tersebut kemudian diperbandingkan dengan database yang dimiliki kamera kemudian diambil setting terbaik untuk scene tersebut. Sekali lagi kamera hanya akan mengira-ngira berdarkan object yang berada dalam frame. Kita ambil sebuah contoh: Jika pada sebuah frame didominanasi oleh warna merah, maka kamera akan menganggap bahwa frame tersebut kemerahan dan kecenderungan kamera jika menemukan hal seperti itu adalah memberikan kompensasi agar frame tersebut tidak menjadi kemerahan, maka kamera akan menambah warna biru sebagai kompensasinya. Hasil akhirnya gambar yang kita lihat memang berwarna merah, menjadi sedikit kebiruan karena kompensasi yang diberikan oleh kamera tadi. Prinsip ini sama persis dengan exposure, ketika frame didominasi warna putih, maka kamera akan menjadikannya warna mid grey, lihat metering untuk lebih jelasnya.
Selain Auto WB fitur-fitur apakah yang disediakan oleh kamera untuk setting WB?
Setidaknya setiap kamera akan memiliki symbol-simbol pada gambar di atas untuk sarana seting WB. Kelvin, akan memberikan keleluasaan kepada fotografer untuk mencoba-coba berapa derajat yang cocok untuk scene yang sedang dihadapinya. Tungten, fluorescent, daylaigh, dll, merupakan preset yang telah dibuat untuk kondisi scene dengan sumber cahaya sejenis. Tapi sekali lagi semua fitur tersebut adalah berupa kira-kira dan bukan satu kepastian.
Fitur yang paling baik memberikan kepastian WB adalah custom WB. Dengan fitur ini kita bisa menset WB pada kondisi yang sama dengan sumber cahaya. Cara paling popular adalah dengan menggunakan kertas putih. Pada arena yang sama dengan sumber cahaya yang ada, kertas putih dizoom sehingga seluruh frame berisi kertas tersebut, focus biasanya diset manual dan set exposure yang tepat kemudian tekan shutter speed. Data kertas putih tadi menjadi dasar warna putih untuk pengolahan warna object keseluruhan. Saat ini set custom bahkan lebih mudah lagi, hanya dengan memasang sejenis filter di depan lensa, kemudian melakukan proses perekaman data seperti tadi, maka WB yang tepat sudah bisa didapat. Pabrikan yang mengeluarkan metode baru tersebut Expo Disc, saying harganya masih cukup mahal.
Untuk membedakan hasil seting WB, contoh berikut bisa mudah-mudahan bisa memberikan pandangan, suasana ruangan memakai lampu compact fluorescent dengan K 6500 (data spec dari manufaktur).
Cool white flourescent
White fluorescent
Auto
Shade
Custom
Dalam pandangan mata saya setelah dibandingkan dengan bonekanya pada saat itu, hasil custom sangat mendekati warna aslinya.
Dengan mengetahui prinsip kerja kamera seperti itu maka akan menjadi jelas bagi kita untuk bisa menentukan kapan Auto WB bisa diandalkan dan kapan manual atau customize WB harus dilakukan.



DEPTH OF FIELD (DOF)

Masih seputar tutorial dasar buat fotografi. Setelah kita bahas exposure dan metering maka saat ini kita akan bahas tentang depth of field (DOF). Bahasan ini mempunyai kaitan dengan aperture dan exposure, karena bukaan diafragma akan mempengaruhi DOF sekaligus mempengaruhi exposure secara keseluruhan.
Secara garis besar, rumusnya adalah sebagai berikut:
DOF semakin dangkal, maka background semakin blur
DOF semakin dalam, maka background semakin jelas
Untuk mendapatkan kondisi tersebut maka, tiga hal berikut bisa dilakukan:
  1. Semakin besar bukaan diafragma (angka aperture kecil) maka semakin dangkal DOFnya. Sebaliknya semakin kecil bukaan diafragma (angka aperture besar) maka semakin dalam DOFnya.
Bidang putih dalam gambar memperlihatkan rentang ketajaman dari sebuah gambar, sedangkan warna abu-abu adalah bagian gambar yang tidak focus (blur). Semakin bear bukaan diafragma, semakin sempit rentang ketajaman gambarnya.
  1. Semakin dekat jarak ke titik focus maka semakin dangkal DOF, semakin jauh jarak ke titik focus maka semakin dalam DOF
  2. Semakin panjang focal point yang digunakan semakin dangkal DOF, Semakin pendek Focal point yang digunkaan semakin dalam DOF.
Untuk hal ketiga (focal length), memang masih menjadi perdebatan karena menurut beberapa pendapat, DOF yang dihasilkan hanyalah merupakan persepsi saja karena semakin panjang Focal length maka gambar yang tampak akan semakin besar dan ini mengakibatkan DOF terlihat semakin nyata. Sedangkan pada focal length pendek, DOF tidak begitu terlihat, tetapi jika dilakukan cropping maka DOFnya sebenarnya sama saja. Terlepas dari pendapat tersebut, Focal length yang panjang memang memberikan persepsi DOF yang lebih dangkal.
Aperture 4,5mm dengan FL 85mm
Aperture 11mm dengan FL 85mm
Aperture 22mm dengan FL 85mm
Aperture 22mm dengan FL 85mm dengan jarak fokus lebih jauh
Ada beberapa kajian tentang DOF ini, namun yang paling penting bagi fotografer hanyalah bagaimana menentukan sebuah object lebih menonjol dari object lainnya atau bagaimana semua object terlihat tajam secara keseluruhan.
METERING


Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah metering dan focusing adalah dua hal yang berbeda, meskipun keduanya bisa dilakukan secara bersamaan dan pada sebagian besar pemula hal tersebut dianggap sama J. Saya juga dulu menganggap demikian, bidikan kamera pada object yang hendak dijadikan POI, tekan tombol shutter setengah, rekomposisi lalu jepret. Kapan metering dilakukan? Ya itu tadi pas tombol shutter ditekan setengah. Ketika melihat hasilnya, cuma senyum-senyum saja, kok begini ya…
Pada kamera DSLR, tentunya ada sebuah tombol yang namanya AEL/AFL (Auto exposure Lock/Auto Focusing lock). Fungsi tombol tersebut bisa bergantian dengan fungsi tombol shutter yang ditekan setengah. Untuk settingnya, silahkan buka buku manual kamera masing-masing. Fokusing harus diarahkan ke POI tetapi metering tidak harus diarahkan ke POI. Metering bisa diarahkan ke mana saja bahkan bisa juga dan dianjurkan diarahkan ke grey card. Untuk itulah maka tersedia exposure lock pada kamera, yaitu untuk bisa mengunci exposure pada bagian lain dan fokusing dan komposisi pada bagian lain.
Metering sangat erat kaitannya dengan exposure yang telah dibahas pada bagian terdahulu. Secara garis besarnya metering adalah melakukan pengukuran pada suatu object utama (POI) agar mendapatkan exposure yang tepat. Metering adalah juga pengamatan terhadap cahaya, pengamatan terhadap highlight, shadow dan middle tone lalu memutuskan pada bagian manakah exposure akan didasarkan, ataukah akan diambil nilai rata-rata terhadap kondisi yang ada. Metering adalah jiwa dari fotografer, semakin paham dan piawai dalam satu masalah ini maka akan semakin mendekatilah apa yang ada dibenak fotografer dengan foto yang dihasilkannya. Bukankah kita selalu berkeluh kesah, wah…saya maunya begini kok hasilnya begitu…semua itu adalah masalah metering, jadi perdalam masalah ini dan hasil foto yang diharapkan akan bisa didapatkan.
Metering kamera bekerja dengan mengkalkulasi object menjadi middle grey. Kalau kamera diarahkan pada object berwarna putih terang yang memenuhi frame kamera maka metering kamera tersebut akan menset object tersebut menjadi middle grey, maka hasilnya akan under exposure. Kalau kamera di arahkan pada object hitam pekat yang memenuhi frame kamera maka metering kamera akan mensetnya juga menjadi middle grey, maka hasilnya akan menjadi over exposure. Bukankah itu yang sering kita alami? Perhatikan diagram 1 berikut untuk memperjelas pemahaman mengenai masalah ini.
Diagram 1. Kamera akan mengkalkulasi ke middle grey
Setelah mengenal apa itu metering, langkah selanjutnya adalah mengetahui bagaimana metering itu bekerja. Untuk itu perlu dipahami dulu amunisi apakah yang dimiliki oleh kamera untuk masalah metering ini. Secara umum sebuah kamera saat ini paling tidak telah dilengkapi oleh 3 buah jenis metering:
  1. Matrix metering
  2. Center Weight Metering
  3. Spot Metering
Ketiga jenis metering tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan dan tergantung pada kondisi pencahayaan yang dihadapi. Bagaimana kelebihan dan kekurangannya serta aplikasinya, mari kita bahas ini lebih jauh.
Matrix metering
Matrix metering adalah penemuan terbaru dari sistim metering kamera. Metering ini bekerja dengan cara membagi frame ke dalam grid-grid kecil. Setiap grid akan di analisis oleh kamera dan hasilnya akan digabungkan untuk dicocokkan dengan database yang telah disimpan didalam sebuah processor dalam kamera tersebut. Hasil kecocokan tersbut adalah hasil metering yang akan digunakan untuk merekam foto yang kita bidik.
Database itu sendiri adalah hasil exposure dari ribuan sample exposure berbagai kondisi pencahayaan yang dihasilkan oleh ratusan fotografer profesional. Untuk itu pabrikan kamera mengklaim bahwa metering system ini sangat ampuh dan presisi untuk digunakan dalam berbagai keadaan. Kalau metering ini digunakan maka maka kasus object putih, kita tidak lagi perlu melakukan kompensasi penambahan exposure untuk mendapatkan hasil putih seperti yang terlihat, atau pengurangan exposure pada warna hitam untuk mendapatkan warna hitam seperti yang terlihat.
Jika sistem metering ini sangat ampuh, mengapa di setiap kamera masih disediakan metering yang lain? masih ada center weighted dan spot metering. Pertanyaan sederhana namun sedikit sulit dijawab. Tapi bagaimanapun kompleknya sistem ini dan bagaimanapun banyaknya database yang tersedia, tetap saja kondisi yang kita hadapi adalah unik. Yang dilakukan oleh kamera adalah tetap menghitung rata-rata dari kondisi yang ada. Kita bisa puas dengan hasilnya atau tidak.
Center weight metering
Metering ini menekankan pada bagian tengah foto, dengan asumsi bahwa POI sebuah foto biasanya berada ditengah. Perhatikan gambar berikut.
Apa yang dilakukan oleh sistem metering ini adalah melakukan analisa dan mengambil nilai rata-rata dari kondisi pencahayaan yang terjadi pada bidang tengah foto. Bagaimanapun nilai yang dihasilkan adalah nilai rata-rata, maka akan selalu terjadi ketidak sesuaian antara kondisi sebenarnya dan kondisi yang dihasilkan. Sebagai contoh, seorang model yang berada dipantai dengan langit yang mendominasi sebagian besar bagian tengah foto, maka saat kalkulasi dilakukan maka yang paling dominan adalah nilai cahaya langit, maka hasil akhirnya akan lebih cenderung untuk mendapatkan exposure langit dan bukan model itu sendiri.
Pada kondisi pencahayaan normal, artinya kondisi hightligh dan shadow yang tidak terlalu kontrast, maka biasanya system metering ini bisa diandalkan. Kompensasi diperlukan untuk menyesuaikan dengan kondisi sebenarnya, seperti pada kasus hitam dan putih di atas.
Spot metering
Spot metering bekerja dengan kemampuan menangkap exposure pada bagian kecil foto, pada kamera biasanya sekitar 3% dari total frame foto, pada light meter malah lebih kecilnya lagi sehingga mencapai 1% dari total frame foto. Dengan kemampuan ini spot metering mampu mengkalkulasi sebuah exposure pada sebuah bidang tanpa dipengaruhi oleh exposure bidang lainnya. Tidak perlu nilai rata-rata di sini. Kita bisa menangkap exposure pada bidang paling terang, paling gelap, menengah sesuai kehendak kita mengarahkan kamera. Konsekuensinya exosure yang diharapka akan bisa kita kendalikan sendiri.
Ada dua hal yang bisa dilakukan dengan spot metering ini. Pertama lakukan pemgukuran pada bidang paling terang atau bidang palin terang atau pada bidang mana saja, kemudian lakukan kompensasi yang diperlukan untuk menangkap area yang diinginkan tersebut terlihat sebagaimana aslinya. Kedua, lakukan pengukuran pada beberapa bidang yang berbeda yang mencakup bidang paling terang ke bidang paling gelap kemudian switch kamera ke mode Manual lalu tentukan sendiri nilai yang dirasa paling cocok berdasarkan pengukuran yang tadi dilakukan.
Spot metering memberikan pengukuran yang sangat presisi namun memerlukan campur tangan yang cukup banyak dari fotografer itu sendiri. Itulah mengapa spot metering banyak digunakan oleh fotografer yang ingin mengontrol exposure sepenuhnya oleh diri sendiri dan bukan oleh kamera. Setiap scene adalah unik, setiap fotografer adalah unik dan untuk itulah spot metering ini dibuat.
Metering yang manakah yang paling baik?
Setiap sistem metering mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi. Untuk itulah setiap kamera tetap dilengkapi oleh ketiga sistem tersebut, yang perlu dipahami adalah bagaimana cara setiap sistem tersebut bekerja sehingga kita sebagai fotografer bisa mengambil tindakan yang diperlukan untuk menggunakan metering tersebut pada setiap kondisi yang dihadapi.
Next: Depth of Field (DOF)


MENGENAL EXPLOSURE

Setelah membahas Aperture, shutter speed dan ISO, sekarang mari melangkah lebih jauh lagi untuk menggunakan ke tiga hal tersebut secara bersamaan. Bersamaan? Ya, karena dalam sebuah kamera hubungan ketiganya adalah saling terikat dan saling mempengaruhi. Setiap perubahan pada 1 hal dari ke tiga hal tersebut akan/harus merubah juga hal yang lainnya. Kombinasi yang tepat dari ke tiga hal tersebutlah yang membuat foto dengan exposure yang tepat pula.
Gb1. Under Exposure
Gb. 2 Correct Exposure
Gb. 3 Over Exposure
Bagaimana sih exposure yang tepat itu?
Pertanyaan yang gampang namun sedikit sulit untuk dijelaskan jawabannya. Mungkin kita bisa awali dengan rule of thumb “Sunny 16”. Apakah “Sunny 16” itu? Saat pertama kali serius mempelajari fotografi, saya sempat bingung dengan rule yang satu ini dan bagaimana terapannya pada kamera. Sekarang mari kita bahas masalah yang satu ini dengan mendalam. Sunny 16 adalah sebuah setting standar yang bisa dimasukan ke kamera sebagai setting exposure yang tepat pada kondisi langit cerah dan terang. Jika kita mendapatkan kondisi seperti ini kemudian memasukan rule sunny 16 ini ke kamera maka sudah dipastikan hasil foto yang dihasilkan mendapatkan exposure yang tepat. 16 itu sendiri adalah bukaan diafragma f16, pada kecepatan 1/125 dan pada sensitivitas sensor ISO 100.
Jelas bukan pada setting tersebut terdapat ke-tiga komponen yang kita bahas dari awal. Aperture : f/16, Shutter Speed: 1/125 detik dan ISO 100. Kemudian timbul pertanyaan kalau saya sedang memotret orang yang sedang bermain bola dan ingin efek freeze pada foto yang saya ambil bagaimana caranya, karena keceparan 1/125 tidak akan cukup untuk membuat frezze bola yang sedang melayang. Hhmm, inilah yang saya maksudkan pada awal tulisan ini bahwa ketiga komponen ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Pertama kita asumsikan bahwa bola bisa freeze pada kecepatan 1/500, kita set shutter speed kita di 1/500. Bagaimana dengan aperture dan ISO? Jika aperture dan/atau ISO tidak ikut dirubah maka sudah bisa dipastikan foto yang dihasilkan gelap semua atau under expose. Mengapa? Karena dengan pemindahan shutter speed dari 1/125 ke 1/500 maka ada penurunan cahaya yang masuk sebanyak 2-stop atau pengurangan cahaya 4 kali dari jumlah cahaya awal. Untuk menutupi kekurangan tersebut maka harus ada kompensasi dari komponen lainnya yaitu aperture dan/atau ISO. Katakanlah kta tidak perlu DOF yang terlalu dalam, maka ISO tidak perlu dikompensasi. Untuk itu kita tambah cahaya yang masuk melalui bukaan diafragma atau aperture sebanyak cahaya yang dikurangi melalui shutter speed. f/16 diperlebar sebanyak 2-stop berarti ada di f/8. Jadi setting di kamera menjadi shutter speed: 1/500, Aperture: f/8 dan ISO tetap 100. dengan kondisi tersebut maka foto yang dihasilkan akan sama exposurenya dengan rule 16 awal.
Mari kita ambil contoh lain setting dengan tetap pada kondisi langit yang sama. Misalkan kita hendak memotret pemandangan dan kita ingin semuanya terlihat tajam maka misal kita set aperture di f/32, artinya ada penurunan aperture sebesar 2-stop. Maka kita harus kompensasikan penurunan tersebut apakah dengan penurunan kecepatan atau menaikan ISO. Katakanlah kita tidak membawa tripod maka kecepatan paling rendah yang kita yakin tidak membuat kamera goyang adalah 1/60. dari 1/125 ke 1/60 berarti terjadi penurunan kecepatan sebesar 1-stop. Sedangkan kompensasi cahaya yang diperlukan adalah 2-stop. Tidak ada jalan lain maka ISO harus kita naikan 1-stop menjadi ISO 200 agar foto yang kita ambil tetap terjaga exposurenya. Jadi settingan baru kita menjadi Aperture:f/32, shuuter speed: 1/60 dan ISO: 200. Perhatikan table berikut untuk menjelas perhitungan kompensasi yang diperlukan.
Apakah setiap foto harus berdasarkan setting rule “Sunny 16”?
Setiap kondisi disekitar kita mempunyai ukuran yang unik, jadi rule sunny 16 tidak bisa digunakan pada setiap kondisi. Sebagaimana dijelaskan di atas rule ini hanya bisa digunakan pada kondisi langit cerah dan terang. Rule 16 ini saya angkat untuk mempermudah pengertian tentang hubungan antara aperture, shutter speed dan ISO.
Setting setiap kondisi bisa didapatkan dengan melakukan metering, yaitu pengukuran exposure yang dilakukan pada object yang akan kita potret. Setiap kamera sudah dilengkapi dengan fungsi metering ini. Keakuratan metering setiap kamera bervariasi tergantung dari jenis dan biasanya harga kamera itu sendiri. Selain kamera ada alat yang namanya light meter. Alat ini biasanya menjadi senjata utama bagi fotografer yang menggunakan kamera analog untuk mendapatkan one shot one kill. Sekarang ini sudah jarang fotografer yang mempergunakannya dan lebih mengandalkan metering pada kamera digitalnya. Salah satu alasannya adalah kamera digital bisa menampilkan langsung foto juga histogramnya sehingga fotografer dapat dengan mudah menganalisa dan memperbaikinya.
Pada kamera digital saat ini, khususnya dslr pada umumnya sudah dilengkapi dengan 4 mode utama, program (P), aperture priority (AV), Shutter priority dan Manual (M). Pada mode program, kita tinggal pointing ke object yang hendak kita foto selebihnya kamera sendiri yang melakukannya. Pada mode aperture priority, kita tinggal set ISO, set aperturenya berapa dan kecepatannya biarkan kamera yang menghitungnya. Pada mode Shutter priority, kita tinggal set ISO dan shutter speed dan biarkan kamera yang mengatur bukaan aperturnya. Pada mode manual semuanya kita yang atur, dengan terlebih dahulu melihat hasil metering pada kamera, lalu kita set ulang ukurannya seperti contoh di atas. Lebih jauh tentang metering akan dibahas pada bagian yang lain.
Mendapatkan exposure yang tepat dengan kamera digital saat ini tidaklah sulit tetapi memang ada kondisi yang “tricky“ yang kamera tidak bisa atasi dan harus dilakukan secara manual, itulah sebabnya pengertian tentang exposure masih menjadi hal yang penting untuk diketahui. Kamera secanggih apapun tetap mempunyai batasan, kamera tetap tidak bisa mengerti mau diapakan object didepannya, apakah bagian gelapnya diterangkan, atau makin digelapkan, apakah bagian terangnya dibiarkan seadanya atau dikurangi sedikit. kita sebagai fotograferlah yang menentukan semua itu. Kamera sebagai alat dan memang berfungsi sebagai alat.
MENENAL ISO



Mungkin cara termudah untuk mambahas ISO dalam fotografi adalah dengan mengingat masa lalu dimana kamera analog yang menggunakan rol kamera masih jaya dan kamera digital belum hadir dan semarak seperti sekarang ini. Masih ingat beberapa tahun lalu fuji menawarkan kamera-kamera poket superianya yang berharga murah. Ketika kita hendak membeli rol film tersebut, pertanyaan si penjual selalu “ASA” berapa? Lalu kita yang masih awam selalu bertanya balik, memangnya “ASA” itu apa? Dan sipenjual akan menjawab, kalau untuk dipakai didalam ruangan, pakai ASA 400 saja sedangkan untuk dipakai di luar ruangan, pakai ASA 100 saja. Saat itu saya selalu putuskan untuk beli ASA 400 karena bagaimanapun saya gunakan foto tersebut di dalam dan di luar ruangan.
Belakangan baru saya tahu bahwa “ASA” itu adalah tingkat sensitivitas film terhadap cahaya, semakin tinggi ASA maka semakin sensitif sensitifasnya terhadap cahaya, artinya kalau pada ASA rendah diperlukan waktu lebih lama untuk mengexpose object ke film sedangkan pada ASA yang tinggi diperlukan waktu yang lebih singkat. Film dengan ASA yang rendah akan menghasilkan gambar yang halus/rapat, film dengan ASA tinggi akan menghasilkan gambar yang kurang halus atau grainy. Semakin tinggi ASA yang digunakan, maka semakin grainy juga hasilnya. Tentunya harga menentukan kualitas grainynya.
Dalam era digital saat ini, peran film sudah digantikan oleh sensor yang kemudian mengkonvertnya menjadi file computer. Namun sensitifitas ini masih tetap dibutuhkan, kalau pada film kita sebut ASA, pada sensor kamera digital kita sebut ISO. Sama halnya seperti ASA, ISO juga terdiri dari beberapa tingkatan sensitifitas, ISO 50, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400? Karakter ISO sama halnya dengan karakter ASA, semakin tinggi akan menghasilkan noise yang semakin banyak. Noise pada kamera digital entry level biasanya membuat gambar menjadi tidak enak dilihat karena noise tersebut terkadang disertai bintik berwarna biru atau merah. Pada kamera kelas di atasnya sudah mulai enak dilihat seperti melihat efek grainy pada ASA film.
Kapan ISO tinggi di gunakan?
Pertanyaan ini tentunya sudah tidak asing lagi. Pada dasarnya ISO tinggi itu digunakan pada kondisi cahaya kurang dan pemotretan dilakukan handheld atau tanpa bantuan tripod dan sejenisnya, dengan demikian untuk mengkompensasikan kecepatan agar pada kecepatan yang aman dari goyangan, maka ISO dinaikan. Ingat! sama halnya dengan aperture dan shutter speed, setiap kenaikan 1-stop ISO sama halnya dengan memasukan cahaya 2 kalinya dan setiap pengurangan 1-stop ISO akan mengakibatkan penurangan cahaya ½ kalinya. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diingat dalam menentukan setting ISO.
  1. Sebisa mungkin salalu gunakan ISO terendah, karena pada setting tersebut kualitas foto akan sangat bagus, artinya setiap pixel akan berisi informasi foto itu sendiri. Kalaupun pada akhirnya kita ingin efek grainy, bisa dengan mudah ditambahkan dengan menggunakan software image processing seperti Photoshop atau Correl.
  2. Pada kondisi cahaya yang temaram, kalau memungkinkan lebih baik menggunkan flash, agar tidak perlu menggunkan ISO tinggi.
  3. Kalau mood foto yang diharapkan dan penggunaan flash dirasa akan menghilangkan mood tersebut, maka gunakan tripod agar ISO rendah masih bisa di pakai.
  4. kalau memang terpaksa menggunakan ISO tinggi, kenalilah kamera anda, pada ISO berapa maksimal kamera anda bisa digunakan dan menghasilkan gambar yang masih lumayan bagus.
  5. Kalau memang tidak ada jalan lain kecuali menggunakan ISO paling tinggi, gunakan format RAW saat mengambil gambar, nantinya RAW processing mungkin bisa sedikit membantu memperbaiki foto anda.
Gambar berikut merupakan contoh perbandingan penggunaan ISO (gambar diambil dengan kamera Fuji S3 dan di croping .
Gambar 1. Foto dengan ISO rendah
Gambar 1. Foto dengan ISO lebih tinggi



MENGENAL SHUTTER SPEED


Dalam fotografi Shutter speed berarti waktu yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup kembali tirai (shutter) sehingga cahaya bisa diterima masuk oleh sensor (dalam dslr). Pada diagram 1 dan diagram 2 bisa dilihat jelas bagaimana proses tersebut berlangsung. Ketika kamera dalam posisi diam maka shutter akan menutupi semua bagian sensor dan posisi cermin ke arah bawah sehingga mata bisa melihat object yang akan di rekam. Ketika tombol shutter ditekan, maka posisi cermin akan menutup ke atas dan bersamaan dengan itu shutter akan membuka dan membiarkan cahaya masuk ke sensor.
Pergerakan cermin dan shutter itulah yang mengeluarkan suara “klik“ pada saat tombol shutter ditekan. Waktu yang dibutuhkan untuk menutup kembali shutter itulah yang dinamakan shutter speed.
Masalahnya sekarang adalah berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup kembali shutter tersebut? Jawabannya adalah tergantung kepada keadaan cahaya yang ada, kondisi lensa dan kamera itu sendiri, juga kreatifitas/keinginan si fotografer sendiri. Lebih jauh tentang masalah ini akan dibahas pada bagian exposure.
Satuan waktu pada kecepatan Shutter kamera berada dalam rentang detik dan 1/sekian detik. Biasanya diset dalam interval “1 stop“, sama halnya dengan aperture, setiap penambahan 1 stop berarti jumlah cahaya yang masuk menjadi 2 kalinya dn sebaliknya setiap pengurangan 1 stop berarti jumlah cahaya yang masuk menjadi ½ kalinya. Range intervalnya adalah sebagai berikut:
...1/1000, 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30, 1/15, 1/8, 1/4, 1/2 ,1, 2, 4, 8, 15, 30....
Semakin ke kiri berarti semakin cepat kecepatan shutternya dan semakin sedikit cahaya yang bisa masuk, sebaliknya semakin ke kanan, berarti semakin lambat kecepatan shutternya dan semakin banyak cahaya yang bisa ditampung. 1/1000 berarti satu per seribu detik, mungkin lebih cepat dari kedipan mata.
Efek kecepatan terhadap foto
Shutter speed yang cepat bisa menangkap object yang sedang bergerak seakan berhenti (freeze) dan shutter speed yang rendah akan mengakibatkan object yang sedang bergerak terlihat bergerak (blur/motion). Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk menangkap object dengan shutter speed rendah, tapi hal itu akan dibahas pada bagian lain. Di sini kita hanya akan membahas efek pada umumnya saja.
Shutter dengan kecepatan tinggi
Untuk aktifitas manusia biasa kecepatan 1/125 sudah cukup untuk membuat aktifitas tampak diam. Untuk aktifitas olahraga membutuhkan kecepatan yang lebih cepat dari itu, balap mobil, perlu lebih cepat lagi. Pendek kata kecepatan aktifitas yang cepat perlu di set shutter yang lebih cepat lagi untuk membekukan aktifitas tersebut. Gambar 3, memberikan contoh bagaimana seorang anak yang sedang berlari tampak seakan melayang karena saat momen itu terjadi kamera merekam dengan kecepatan yang lebih cepat daripada gerakan si anak. Foto tersebut diambil dengan kecepatan 1/800 detik.
Shutter dengan kecepan rendah
Ketika shutter speed diset pada kecepatan rendah, maka efek gerak pada setiap aktifitas yang direkan akan terlihat seperti bayangan blur. Foto 4, diambil pada kecepatan sekitar 1 detik, memperlihatkan air yang mengalir pada air terjun. Efek shutter lambat ini akan memperlihatkan aliran air yang seperti kapas, indah untuk dilihat karena memberikan mood yang berbeda dibanding dengan foto air yang direkam dengan kecepatan tinggi.
Pada kecepatan yang lebih lambat lagi, efek yang dihasilkan bisa lebih mengasikan lagi, karena selama shutter terbuka maka akan merekam gambar yang masuk ke sensor, dan karena gambar yang masuk tersebut tidak utuh maka akan merupakan bayangan-bayangan saja. Gambar 5, diambil pada kecepatan 30 detik, memperlihatkan contoh efek tersebut.
Perlukah Tripod pada kecepatan rendah?
Rule of thumb dari para fotografer bahwa penggunaan kamera dengan hanya menggunakan tangan (handheld) maksimal pada kecepatan 1/60. Kecepatan dibawah itu akan sangat riskan mengakibatkan kamera bergoyang dan menimbulkan blur pada gambar. Perlu dibedakan antara blur pada slow effect dengan blur akibat kamera bergoyang. Pada slow effect masih terdapat bagian tajam pada object statis sedangkan pada kamera yang goyang semua bagian akan menjadi blur dan tidak jelas. Bagi saya pribadi 1/125 adalah angka yang paling aman untuk mengambil foto tanpa bantuan tripod atau alat bantu lainnya. Gambar 7, memperlihatkan contoh gambar blur akibat kamera bergoyang dan gambar yang tidak.
Beberapa pendapat mengatakan bahwa kecepatan yang aman akan tergantung juga pada Focal length yang digunakan. Sebagai contoh jika focal length yang digunakan 500 mm maka kecepatan amannya adalah 1/500. Jika focal length 100 mm maka kecepatan amannya adalah 1/100, begitu seterusnya. Penggunaan tripod atau setidaknya monopod akan membantu kita mendapatkan gambar yang tajam atau istilah kerennya tact sharp.


MENGENAL APERTURE




Pada fotografi, aperture adalah lubang yang terdapat dalam lensa yang berfungsi untuk mengalirkan cahaya yang terproyeksikan ke sebuah benda masuk ke sensor pada kamera digital atau film pada kamera analog. Pada lensa, lubang ini di hasilkan dari beberapa material tipis yang membetuk lingkaran yang sering di kenal dengan sebutan diafragma (lihat gb. 1). Besar-kecilnya lubang inilah yang kemudian dijadikan sebuah ukuran baku yang dinamakan f-stop.
Gambar 1. Diafragma
Ukuran baku f-stop adalah sebagai berikut:
f/64, f/32, f/22, f/16, f/11, f/8.0, f/5.6, f/4.0, f/2.8, f/2.0, f/1.8, /f1.4
Ukuran tersebut adalah range f-stop yang ada di pasaran. Setiap lensa tentunya akan mempunya range yang berbeda-beda yang akan disesuaikan oleh factor lainnya dan akan sangat mempengaruhi harga lensa itu sendiri.
f pada f-stop adalah kependekan dari kata fraction, atau dalam bahasa kita “satu per…”. Pada ukuran f/64, itu berarti lubang yang dibentuk oleh diafragma 1/64 satuan dan pada f/1.4 berarti 1/1.4 satuan. Artinya semakin kecil angka f-stop, berarti semakin besar lubang pada lensa tersebut dan sebaliknya semakin besar angka f-stop berarti semakin kecil lubang pada lensa tersebut. Lihat gambar 2 dan gambar 3.
Gambar 2. Posisi bukaan diafragma pada f-4
Gambar 3. Posisi bukaan diafragma pada f-22
Semakin lebar bukaan yang dibentuk oleh diafragma berarti semakin banyak cahaya yang bisa masuk dalam satu satuan waktu. Satuan waktu ini berhubungan dengan kecepatan kamera (shutter speed) yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Oleh sebab itu lensa yang mempunyai kemampuan bukaan diafragma yang besar sering dikategorikan sebagai lensa cepat. Sebaliknya semakin kecil bukaan lensa berarti semakin sedikit cahaya yang bisa masuk per satu satuan waktu.
Pada ukuran baku di atas setiap pergantian angka ke angka di depannya, sebagi contoh dari f/22 ke f/16, berarti ada penambahan cahaya yang masuk sebesar 1 stop atau cahaya yang masuk menjadi 2 kali dari jumlah cahaya awal. Sebaliknya pada pergantian angka dibelakangnya seperti dari f/4.0 ke f/5.6 berarti ada pengurangan cahaya yang masuk sebesar 1 stop atau cahaya yang masuk menjadi ½ dari jumlah cahaya awal.
Hukum intensitas cahaya
Mari kita ambil sebuah contoh, di saat kita menset sebuah lampu flash pada jarak katakanlah ½ m, katakanlah kita tidak menggunakan flash meter sehingga tidak bisa mendapatkan ukuran yang pas. Jepretan pertama foto yang di ambil over expose, lalu berdasarkan analisa foto, cahayanya kelebihan 2 kalinya. Kita ambil keputusan untuk memundurkan lampu agar intesitas cahaya lampu tersebut menjadi ½ nya. Lalu kita mundurkan lampu tersebut menjadi 1 m, ketika di jepret maka fotonya kok menjadi under exposure. Padahal asumsi kita dengan memundurkan lampu dari jarak ½ m ke 1 m, kita sudah menurunkan intensitas cahaya 2 kalinya. Benarkah?
Cahaya mempunyai kekompleksan tersendiri dalam proses perambatannya, namun para ahli telah menemukan semuah formula yang sampai saat ini masih valid untuk digunakan. Formula tentang intensitas cahaya adalah bahwa intensitas cahaya akan berlipat atau menjadi setengahnya berdasarkan jarak yang dikalikan dengan akar 2. kalau hasil dari akar 2 dibulatkan sekitar 1.4142, maka untuk mendapatkan ½ jarak dari ½ m, maka jarak yang dibutuhkan untuk mendapat cahaya yang tepat adalah ½ x 1,4142 = 0,7 m. Jadi bukan ½ x 2 = 1 m .
Penambahan atau pengurangan angka pada f-stop menggunakan formula intensitas cahaya tersebut: Perhatikan table 1 berikut:
Tabel 1. Perhitungan f-stop berdasarkan hukum intensitas cahaya
Bagaimana dengan maksimal aperture pada zoom lens?
Kalau kita perhatikan pada kebanyakan lensa zoom pada kelas entry level selalu tertulis range zoom dan range aperture. Contoh pada gambar 4 berikut: lensa 14-45mm, 3.5 – 5.6, apakah artinya?
Tulisan tersebut berarti maksimal bukaan diafragma pada focal length 14mm adalah f/3.5 dan ketika zoom-nya diputar menjadi lebih besar dg focal length 45mm, maka maksimal bukaan diafragmanya menjadi 5.6. lebih jauh tentang focal length akan di jelaskan secara terpisah. Dengan kondisi yang demikian maka dibutuhkan kehati-hatian ketika kita memotret dalam mode manual (M), karena pergerakan focal length akan mengakibatkan perubahan f-stop lensa. Jika metering dilakukan pada focal length 14 mm maka ketika zoom diputar ke arah focal length 45 mm dan metering tidak dirubah maka foto akan menjadi under expose. begitu juga sebaliknya akan mengakibatkan terjadi over expose.
Lalu mengapa f/3.5 tidak ada dalam table f-stop standard?
Saat ini pada setiap kamera telah dilengkapi dengan interval f-stop 1/3 atau 1/2 stop. Pada f-stop standar, intervalnya adalah 1-stop. Berapapun interval tersebut, pemahaman f-stop ini sangat dibutuhkan untuk memotret secara manual, saya pribadi lebih cenderung menggunakan interval 1-stop karena lebih memudahkan untuk mengkalkulasinya. Penentuan f-stop selain berhubungan dengan setting shutter speed juga sangat menentukan depth of field (DOF) yang akan dijelaskan pada bagian tersendiri.

READ MORE - FOTOGRAFI DASAR
 
Copyright © 2011. Toko Bunga Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Florist Online Barlingmascakeb Toko Bunga Cilacap | Banjarnegara | Wonosobo | Kebumen | Purwokerto